Kegiatan Tanoto Foundation Melahirkan Generasi Peduli Lingkungan

Tanoto Foundation yang didirikan oleh pengusaha Indonesia, Sukanto Tanoto, rutin memberikan beasiswa Tanoto Foundation setiap tahun, baik kepada para siswa, mahasiswa, dan guru. Program ini merupakan salah satu perwujudan dari misi memudahkan akses ke pendidikan berkualitas. Serta menghadirkan generasi peduli lingkungan.

Seperti beasiswa lainnya, penerima beasiswa Tanoto Foundation mendapatkan dukungan finansial maupun uang saku untuk biaya pendidikan. Keunggulan beasiswa Tanoto Foundation adalah upayanya untuk melengkapi para Tanoto Scholars, sebutan untuk penerima beasiswa, dengan beragam keterampilan dan mengajak mereka untuk aktif dalam beragam kegiatan sosial. Tujuannya tentu saja agar mereka mampu berguna bagi bangsa dan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan.

Sebanyak 6.600 orang telah menerima beasiswa Tanoto Foundation. Jika melihat kiprah mereka, tujuan dari kegiatan Tanoto Foundation tampaknya berhasil. Salah satunya dengan menghadirkan generasi peduli lingkungan.

Salah satunya, aksi para alumni penerima beasiswa Tanoto Foundation pada 14 Oktober 2016 lalu. Mereka mendatangi kawasan rekreasi pulau Pasumpahan di Riau untuk berinisiatif membersihkan sampah yang ada di Pasumpahan dan membagi-bagi stiker peduli lingkungan kepada pengunjung lain sebagai bagian dari kampanye mereka tentang kelestarian alam.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Alumni Tanoto Foundation Gathering di Riau. Seperti acara gathering yang rutin digelar sebelumnya, kegiatan ini merupakan ajang kumpul para mantan penerima beasiswa Tanoto Foundation. Tidak kurang dari 51 orang yang mengikutinya. Mereka merupakan lulusan dari berbagai perguruan tinggi seperti dari Universitas Riau, Universitas Gajah Mada, Universitas Sumatera Utara, Institut Pertanian Bogor, Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, Akademi Teknik Pulp dan Kertas Bandung, dan Universitas Lancang Kuning. Kini, mereka semua telah lulus kuliah dan sedang bekerja.

“Kegiatan kami tidak hanya berkumpul, bermain games dan bersilahturahmi saja, tetapi juga berkampanye tentang kepedulian terhadap lingkungan,” ucap Ketua Panitia Kegiatan Febri Harianto di Tribun Pekanbaru.

Momen ini juga dimanfaatkan oleh para alumni Tanoto Foundation untuk mendeklarasikan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka melakukannya dengan menandatangani kain putih tanda janji untuk ikut menjaga kelestarian alam.

Deklarasi yang dilakukan oleh alumni Tanoto Foundation ini sejalan dengan prinsip yang digariskan oleh pendirinya, Sukanto Tanoto. Ia berharap agar semua perusahaan dan unit usahanya dapat bermanfaat dan berguna untuk bangsa dan masyarakat.

“Saya mengapresiasi kegiatan ini karena sesuai dengan prinsip yang dipegang oleh Bapak Sukanto Tanoto yang baik untuk masyarakat, negara, iklim dan perusahaan,” kata Talent Management PT Riau Andalan Pulp and Paper, Bumantara Gani.

Tanoto Foundation yang didukung oleh keluarga Sukanto Tanoto memang berupaya menghadirkan kesadaran terhadap kepedulian lingkungan. Mereka berharap para penerima beasiswa Tanoto Foundation aktif berperan sebagai contoh. Diharapkan pula mereka tidak hanya beraksi ketika masih menjadi mahasiswa, namun saat sudah lulus dari perguruan tinggi mau tetap melakukannya.

Seberapa Penting Reklamasi Pantai Untuk Dilakukan?

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar berita yang membahas tentang reklamasi pantai. Mulai dari Reklamasi Benoa maupun Reklamasi Jakarta. Ada yang pro dan ada yang kotra terhadap kebijakan reklamasi pantai ini. Apapaun itu pasti memiliki tujuan baik didalamnya walaupun tidak kita pungkiri pasti ada yang dirugikan. Semua pasti demi kepentingan bersama.

Yang bisa kita lihat sebagai orang awam memang reklamasi pantai yang terjadi di Benoa dan Jakarta hanya memberikan manfaat dari sisi ekonomi. Pastinya dong ya? Pajak dan aliran lainnya bakal masuk kantor keuangan pemerintah. Namun mungkin bagi rakyat sekitar, faktor ekonomi bisa jadi masalah yang untuk dihadapi.

Beberapa alasan yang aku cermati dari berita-berita yang beredar, para nelayan atau lainnya merasa keberatan jika dilakukan reklamasi pantai. Alasannya reklamasi pantai bisa mematikan pencaharian nelayan dan lingkungan laut sekitar. Kalau dari sisi itu memang tidak bisa kita pungkiri. Pasti jarak melaut akan lebih jauh dibandingkan sebelumnya. Dan ekosistem laut yang ada di area tersebut pasti akan terganggu. Seperti ikan, terumbu karang dan lain-lainya. Akan tetapi pasti ada alasan lain kenapa reklamasi dilakukan.

Seperti yang dijelaskan pada Ruang Reklamasi, selain alasan ekomoni yang lebih baik, reklamasi pantai juga dapat menambah lahan perumahan yang mana emmang di Jakarta sudah mulai berkurang. Selain itu juga alasan bahwa kerusahan kawasan pantai jadi pertimbangan untuk dilakukannya reklamasi ini. Kawasan tersebut juga dirasa kurang produktif.

Memang bisa kita akui dengan adanya reklamasi ini, kawasan tersebut jadi lebih hidup dan lebih produktif dari sebelumnya. Karena reklamasi yang akan dilakukan juga nggak main-main. Pastinya dilakukan hati-hati dan penuh perhitungan. Namun efeknya juga berimbah dengan nasip orang-orang disekitar yang nggak boleh dikesampingkan.

Seperti yang kita lihat di dicerita film-film bahwa untuk mendapatkan hal yang besar harus rela mengorbankan yang kecil. Tampaknya itu akan terjadi pada kasus reklamasi ini. Semua kebujakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pastinya tidak bisa memuaskan hati semua pihak. Harus ada yang dikorbankan untuk itu. Namun alangkah baiknya sebisa mungkin apapun itu kebijakannya, tidak merugikan siapapun baik kalangan atas apa lagi kalangan bawah. Kami yang sudah susah ini janganlah ditambahi dengan beban yang tambah menyelutikan ini.

Sebagai orang yang tidak tinggal langsung di Jakarta dan Bali, memang tidak merasakan dampaknya. Bahkan keuntungannya juga tidak. Tapi dari kasus dua lokasi ini bisa berimbas untuk kasus-kasus berikutnya. Bisa saja akan muncul reklamasi-reklamasi lainnya. Dengan ribuan pulau yang sudah ada di Indonesia ini, akankah ditambah lagi dengan pulau-pulau hasil reklamasi?

Kebijakan reklamasi pantai ini memang menarik diikuti. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi berikutnya. Dengan harapan bahwa apapun keputusan yang didapat tidak mengorbankan salah satu pihak. Jadi, Seberapa penting reklamasi pantai untuk dilakukan? Tergantung persepsi dan manfaat yang didapat dari masing-masing lokasi.

Seberapa Besar Dampak Dari Penghapusan Kawasan 3 in 1?

Kemacetan di jalan raya merupakan masalah klasik dari dulu hingga sekarang. Khususnya di Ibu Kota Indonesia yaitu DKI Jakarta, macet adalah hal yang sudah biasa. Pemerintah DKI Jakarta juga sudah mengupayakan berbagai solusinya. Mulai dari memperbaiki masalah transportasi umum sampai pembatasan akses jalan seperti penerapan kawasan 3 in 1 yang kini akan dilakuakan Penghapusan Kawasan 3 In 1.

3 in 1 merupakan kebijakan yang membatasi mobil pribadi yang melintasi jalan tertentu berdasarkan jumlah minimal penumpang, yaitu 3 orang atau lebih. Kebijakan 3 in 1 ini adalah kebijakan dari Gurbernu DKI Jakarta terdahulu yaitu Pak Sutiyoso pada tahun 2003. Tujuan dari adanya kebijakan ini untuk mengurangi kemacetan akibat dari banyaknya mobil pribadi yang isi penumpangnya hanya 1 atau 2 saja.

Awal bulan april ini, Gubernur DKI Jakarta saat ini Pak Basuki Tjahaja Purnama atau yang sering disapa Ahok menghembuskan wacana untuk penghapusan kawasan 3 in 1 sindonews. Wacana tersebut dimunculkan karena kebijakan 3 in 1 ini malah menjadi maraknya kemunculan perjokian. Dengan adanya praktik perjokian tersebut, pengurangan kemacetan sesuai dengan tujuan awal dirasa percuma saja.

Wacana penghapusan kebujakan 3 in 1 ini juga sudah mulai dilakukan uji coba. Tanggal 5 April atau lebih tepatnya hari selasa kemarin, kebijakan 3 in 1 tidak diberlakukan lagi. Hasilnya untuk hari pertama mungkin masih belum terasa dampaknya. Namun setelah itu apakah sama saja apabila semua pengguna sudah tahu?

Penghapusan kawasan 3 in 1 sindonews memang masih dalam uji coba. Namun walaupun masih uji coba, banyak penolakan dari sana sini. Alasannya sama, akan lebih macet jika kebijakan penerapan 3 in 1 ini dihapus. Dari para joki juka terjadi penolakan karena akan menghilangkan ladang penghasilan mereka.

Sebenarnya upaya penghapusan 3 in 1 ini juga ingin mengalihkan ke penarapan Electronic Road Pricing (ERP). ERP ini merupakan penerapan jalan berbayar dengan elektronik. ERP sebenarnya juga kebijakan bagus apabila memang benar-benar terealisasi. Walaupun ERP ini sudah diuji coba, namun belum tampak langkah selanjutnya tentang penerapannya.

Pembatasan 3 in 1 akan dan penerapan ERP juga belum jelas, la terus jalannya jadi gimana? Beberapa pengamat juga mengomentari mengenai penghapusan kebijakan ini. Ya semua tidak setuju jika kebijakan tersebut dihapus tanpa ada solusi yang lain. Jika ERP bisa diterapkan, maka 3 in 1 sah-sah saja jika tidak diberlakukan lagi.

Selama ini pembatasan minimal 3 penumpang untuk 1 mobil memang dirasa bisa mengurangi kemacetan. Terutama untuk mobil-mobil pribadi yang berisikan penumpang kurang dari 3. Dengan adanya kebijakan 3 in 1 tentu akan membuat mobil yang berisikan penumpang yang hanya 1 atau dua orang berpikir ulang untuk melewati jalan dengan aturan tersebut.

Dampak yang terjadi apabila Kawasan 3 in 1 dihapus tentu akan sangat besar. Tanpa batasan, tanpa aturan tentu semua bisa melewati jalan-jalan yang selama ini tidak boleh dilalui. Akibatnya macet pun tak terelakkan. Yang selama ini sudah macet bisa jadi tambah macet lagi.

Ya kita tunggu saja apakah penghapusan kawasan 3 in 1 ini jadi direalisasikan. Jika memang kebijakan ini jadi dihapuskan, maka pemerintah juga harus menyiapkan kebijakan baru. Jika tidak maka kemacetan dikawasan yang 3 in 1 dihapus akan menjadi-jadi. Kemacetan bisa tambah parah. Bagaimana pendapat teman-teman tentang penghapusan kawasan 3 in 1 ini?